ITSM & Service Strategy

Hasil gambar untuk it layanan


A. ITSM
Apakah IT SERVICE MANAGEMENT (ITSM)?

IT Service Management (ITSM) adalah suatu metode pengelolaan aktivitas teknologi informasi yang fokus memberikan layanan prima kepada para pengguna/pelanggannya.
Tujuan utama ITSM adalah menyelaraskan layanan IT dengan kebutuhan pengguna, memperbaiki kualitas layanan TI, dan mengefektifkan penggunaan biaya untuk pengelolaan TI. Penerapan ITSM dapat membantu organisasi untuk meningkatkan kinerjanya.

"ITSM adalah seperangkat alat organisasi khusus untuk memberikan nilai kepada pelanggan dalam bentuk layanan"

APAKAH INCIDENT, PROBLEM & CHANGE MANAGEMENT?
Tidak pernah ada cara yang baku memulai ITSM dalam organisasi. Melalui artikel ini saya akan memberikan panduan mengimplementasikan ITSM dengan 3 proses yaitu incident, problem & change management.

1. Incident Management
Incident Management adalah proses pencatatan, penelusuran, penugasan, dan pengelolaan insiden untuk dikomunikasikan dengan pengguna layanan IT. Pengertian insiden menurut ITIL adalah gangguan terhadap layanan IT atau penurunan kualitas dari layanan IT, contohnya seperti: printer error, tidak bisa login ke aplikasi, kegagalan server, dan hal-hal lain yang mengganggu suatu layanan IT dapat dikategorikan sebagai insiden.
Incident Management dijalankan dengan suatu prosedur. Dimulai pada saat User melaporkan terjadi insiden/gangguan, kemudian Helpdesk akan mencatat ke dalam log insiden den membuat tiket insiden. Setelah insiden dicatat, Helpdesk akan mengidentifikasi gangguan yang terjadi, jika insiden dapat diselesaikan oleh Helpdesk maka Helpdesk akan memandu langkah-langkah untuk segera melakukan perbaikan/resolusi terhadap insiden tersebut atau Helpdesk langsung mendatangi User yang melaporkan untuk langsung menangani insiden/gangguan tersebut. Namun jika gangguan/insiden tidak dapat ditangani maka Helpdesk akan melakukan eskalasi ke Tehnical Support yang kompetensinya lebih tinggi. Selanjutnya Tehnical Support akan mengidentifikasi insiden/gangguan yang terjadi dan melakukan penanganan secepat mungkin. Setelah insiden/gangguan selesai ditangani maka Helpdesk akan menutup tiket laporan dan memutakhirkan status insiden menjadi CLOSED.
Incident, Problem & Change Management

2. Problem Management
Problem Management adalah proses yang bertanggung jawab menangani problem lifecycle. Pengertian Problem menurut ITIL adalah penyebab lebih dari sebuah atau lebih insiden. Jika dikaitkan dengan insiden maka biasanya problem terjadi sesudah insiden, penyebab ini umumnya tidak diketahui ketika tiket problem dibuat, dan proses Problem Management bertanggung jawab terhadap investigasi lebih lanjut. Contoh penanganan problem seperti ini disebut dengan Reactive Problem Management dimana investigasi dilakukan setelah insiden terjadi, sebaliknya penanganan problem juga dapat dilakukan sebelum insiden terjadi dengan cara mencari gejala-gejala yang mungkin dapat menimbulkan insiden, proses ini disebut dengan Proactive Problem Management.
Contoh problem management adalah pada hari Senin terjadi server error yang menyebabkan aplikasi hang, setelah dicari penyebabnya incident management team tidak menemukan masalah apapun kemudian server direstart dan aplikasi berjalan normal kembali. Selang seminggu terjadi lagi error yang sama, kemudian incident management team merestart server dan aplikasi pun berjalan normal kembali. Pada saat selesai penanganan insiden yang kedua, incident management team melakukan eskalasi masalah ke problem management. Server yang berulang kali direstart menunjukkan bahwa insiden itu telah berubah menjadi problem, masalah tidak benar-benar tuntas pada saat server hanya direstart.
Pada kejadian di atas maka insiden sudah menjadi problem dan perlu dilakukan investigasi lebih mendalam terhadap error yang terjadi. Metode mencari akar masalah yang menjadi penyebab error di proses problem management dinamakan dengan root cause analysis. Pada saat akar masalah telah ditemukan maka perlu ditentukan perbaikan/resolusi permanen terhadap problem tersebut.
Incident, Problem & Change Management

Gambar berikut merupakan contoh cara mencari akar masalah suatu problem yang disebut dengan 5 Why.
Setelah ditemukan akar masalah pada server, dilakukanlah resolusi permanen berupa penambahan memori untuk mengatasi agar tidak terjadi lagi server error. Akar masalah dan resolusi yang telah dilakukan akan didokumentasikan ke dalam Known Error Database (KEDB) untuk memastikan problem dapat dilihat historinya dan dapat menjadi sumber informasi apabila problem yang sama terjadi lagi di masa mendatang.

3. Change Management
Change Management adalah proses yang bertanggung jawab mengendalikan siklus dari setiap perubahan (change). Tujuan utama dari change management adalah merealisasikan manfaat perubahan dengan meminimalisasi gangguan terhadap layanan.

Change Management dilakukan untuk 2 (dua) alasan, yaitu: 
  1. Proaktif dengan tujuan mencari benefit yang digunakan untuk mendukung kepentingan bisnis dan/atau peningkatan layanan IT dan/atau peningkatan kemudahan sehingga layanan IT menjadi lebih efektif; 
  2. Reaktif dengan tujuan untuk menyelesaikan suatu masalah atau adaptasi terhadap lingkungan yang berubah.

Incident, Problem & Change Management

Contoh change management yaitu pada saat melakukan perubahan fungsi pada aplikasi bisnis, langkah yang harus dilakukan adalah mengajukan form Request For Change (RFC), setelah diajukan akan dianalisa dampak, risiko, dan alasan pengajuan perubahan serta dibuat rencana apa yang harus dilakukan apabila perubahan gagal. Setelah RFC disetujui maka harus dibuat perencanaan implementasi perubahan sedetail mungkin untuk memastikan RFC dapat berhasil sesuai tujuan awal. Risiko-risiko yang mungkin terjadi pada RFC yang tidak dikelola dengan baik seperti:
  1. Perubahan yang tidak/belum disetujui
  2.  Tingkat keberhasilan perubahan yang rendah
  3.  Jumlah perubahan darurat yang tinggi
  4.  Pembengkakan biaya dan waktu
  5. Ketidaksesuaian requirement dengan hasil perubahan

“Tidak ada perubahan yang tidak berisiko, maka siapkan rencana yang matang”

4. Hubungan Incident, Problem & Change Management
Incident, problem, dan change management adalah proses-proses yang berhubungan dalam pengelolaan ITSM. Insiden yang berulang membuat insiden itu menjadi problem, dan untuk problem yang sudah diketahui akar masalahnya diperlukan change management untuk resolusi/perbaikannya. Sehingga dapat dilihat ketiga proses ini saling terkait dan dapat dengan mudah diterapkan untuk memulai ITSM dalam suatu organisasi IT.
Incident, Problem & Change Management


Hasil gambar untuk IT Infrastructure Library

B. Servise Strategy

Service Strategy (Strategi Layanan) adalah salah satu publikasi inti IT Infrastructure Library (ITIL) framework yang digunakan di dalam penerapan IT Service Management (ITSM). ITIL atau Information Technology Infrastructure Library (Bahasa Inggris, diterjemahkan Pustaka Infrastruktur Teknologi Informasi), adalah suatu rangkaian konsep dan teknik pengelolaan infrastruktur, pengembangan, serta operasi teknologi informasi (TI). ITIL diterbitkan dalam suatu rangkaian buku yang masing-masing membahas suatu topik pengelolaan TI. Nama ITIL dan IT Infrastructure Library merupakan merek dagang terdaftar dari Office of Government Commerce (OGC) Britania Raya. ITIL memberikan deskripsi detail tentang beberapa praktik TI penting dengan daftar cek, tugas, serta prosedur yang menyeluruh yang dapat disesuaikan dengan segala jenis organisasi TI.

1.) Service Strategy
Inti dari ITIL Service Lifecycle adalah Service Strategy.
Service Strategy memberikan panduan kepada pengimplementasi ITSM pada bagaimana memandang konsep ITSM bukan hanya sebagai sebuah kemampuan organisasi (dalam memberikan, mengelola serta mengoperasikan layanan TI), tapi juga sebagai sebuah aset strategis perusahaan. Panduan ini disajikan dalam bentuk prinsip-prinsip dasar dari konsep ITSM, acuan-acuan serta proses-proses inti yang beroperasi di keseluruhan tahapan ITIL Service Lifecycle.
Proses-proses yang dicakup dalam Service Strategy :
·         Service Portfolio Management
·         Financial Management
·         Demand Management

2.) Service Design
Service Design berisi prinsip-prinsip dan metode-metode desain untuk mengkonversi tujuan-tujuan strategis organisasi TI dan bisnis menjadi portofolio/koleksi layanan TI serta aset-aset layanan, seperti server, storage dan sebagainya.
Ruang lingkup Service Design tidak melulu hanya untuk mendesain layanan TI baru, namun juga proses-proses perubahan maupun peningkatan kualitas layanan, kontinyuitas layanan maupun kinerja dari layanan.
Proses-proses yang dicakup dalam Service Design yaitu:
·         Service Catalog Management
·         Service Level Management
·         Supplier Management
·         Capacity Management
·         Availability Management
·         IT Service Continuity Management
·         Information Security Management

3.) Service Traansition
Service Transition menyediakan panduan kepada organisasi TI untuk dapat mengembangkan serta kemampuan untuk mengubah hasil desain layanan TI baik yang baru maupun layanan TI yang dirubah spesifikasinya ke dalam lingkungan operasional. Tahapan lifecycle ini memberikan gambaran bagaimana sebuah kebutuhan yang didefinisikan dalam Service Strategy kemudian dibentuk dalam Service Design untuk selanjutnya secara efektif direalisasikan dalam Service Operation.

4.) Service Operation
Service Operation merupakan tahapan lifecycle yang mencakup  kegiatan operasional harian pengelolaan layanan-layanan TI. Di dalamnya terdapat panduan pada bagaimana mengelola layanan TI secara efisien dan efektif. Panduan-panduan ini mencakup bagaiman menjaga kestabilan operasional layanan TI serta pengelolaan perubahan desain, skala, ruang lingkup serta target kinerja layanan TI.
Proses-proses yang dicakup dalam Service Transition yaitu:
·         Event Management
·         Incident Management
·         Problem Management
·         Request Fulfillment
·         Access Management

5.) Continual Srvice Improvement
Continual Service Improvement (CSI) memberikan panduan penting dalam menyusun serta memelihara kualitas layanan dari proses desain, transisi dan pengoperasiannya. CSI mengkombinasikan berbagai prinsip dan metode dari manajemen kualitas.
Penerapan ini merupakan pendahuluan dari Countinual Service Inprovement (CSI) berdasarkan ISO/IEC 20000, yang merupakan :

·         Mendefinsikan pemeriksaan yang dibutuhkan dalam melakukan eksekusi
·         pada tahapan pemeriksaan.
·         Mengidentifikasikan komparisasi tampilan berdasarkan CSI serta lifecycle yang lainnya.
·         Mengidentifikasikan proses aktivitas yang membutuhkan pengenalan.
·         Mengidentifikasikan kewajiban dan wewenang dari manajemen.
·         Mencari tools yang dibutuhkan untuk mendukung dan mempros dokumen




https://id.wikipedia.org/wiki/ITSM
https://id.wikipedia.org/wiki/ITIL
http://www.equine.co.id/it-service-management-2/
http://anna_fitria.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.3

Revisi UU ITE



Hasil gambar untuk UU ITE

Jakarta, Kominfo - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara memastikan revisi Undang-Undang No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) tuntas tahun 2015 ini.
Pasalnya, diungkapkan Rudiantara, saat ini revisi tersebut sudah masuk ke tahap baru dan akan segera dibahas lagi oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Hanya pasal 27 ayat 3 saja yang direvisi. Sekarang sudah melewati proses harmonisasi oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional, Kementerian Hukum dan HAM. Statusnya sudah di Sekretariat Negara, tinggal ditandatangani oleh Presiden kemudian dibawa ke DPR, ungkap Rudiantara, di Jakarta, Selasa (4/8).
Menurut Rudiantara, inti perubahan tersebut adalah mengurangi tuntutan masa hukuman, dari 6 tahun penjara menjadi 4 tahun saja. Kondisi ini akan menjadikan orang yang dituntut dengan pasal tersebut tidak akan ditahan sebelum tuntutan diproses. “Kita revisi ini agar jangan sampai orang bersalah malah dilepas dan jangan sampai orang yang belum tentu bersalah malah ditahan,” ujarnya.
Ditambahkannya, perubahan lainnya adalah penegasan pasal tersebut sebagai delik aduan. “Artinya orang yang merasa dirugikan atau dicemarkan nama baiknya melalui media informasi lalu ingin menuntut, harus memasukan laporannya sebagai individu, tidak dapat diwakilkan pihak lain,” imbuhnya.
Sebelumnya, Staff Khusus Bidang Hukum dan Regulasi Strategis Menkominfo, Danrivanto Budhijanto menyatakan, proses revisi tersebut belum final karena masih harus dibahas lagi oleh DPR. “Setelah ditandatangani Presiden, DPR akan mencari naskah pembanding serta masukan untuk menguji revisi UU ITE tersebut,” kata Danrivanto.
Perlu diketahui, UU ITE terbit pada 25 Maret 2008 silam dengan cakupan globalisasi, perkembangan teknologi informasi, dan keinginan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dalam UU ITE tersebut terdapat Pasal 27 ayat 3 yang kerap disebut pasal karet dan menjadi sorotan. Pasal yang dimaksud sebenarnya membahas penghinaan dan pencemaran nama baik melalui dunia maya.
Atas permasalahan tersebut, sejumlah ormas, seperti Southeast Asia Freedom of Expression Network (Safenet), Elsam, dan Kontras menuntut dihapusnya pasal yang kerap menuai masalah antara lain pasal 27 ayat 1 dan 3, pasal 28 ayat 2, dan pasal 31 ayat 3 (Aak).

Download UU ITE No 11 Tahun 2008
Download Hasil Revisi UU ITE 


Pemograman Sederhana Python

https://groups.openstack.org/sites/default/files/profile-images/programmer-python-2861537-1680x1050.jpg



Perintah Print Python
1. Mencetak sebuah kalimat
>>> print "Hello Programmer"
Hello Programmer

2. Mencetak sebuah variabel
>>> variabel_satu = "ini adalah pemograman python"
>>> print variabel_satu
ini adalah pemograman python

3. Mencetak sebuah variabel dengan string
 >>>panjang = 7
>>>lebar = 5
>>>keliling = panjang * lebar
>>>print keliling
35

makalah - Berkembangnya Budaya Westernisasi Dalam Tekhnologi Masa Kini

Berkembangnya Budaya Westernisasi
Dalam Tekhnologi Masa Kini



                                      logo



IKHSAN BURHANUDIN (13115253)

1KA18








SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015-2016



KATA PENGANTAR


Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha Pengasih lagi maha penyayang. kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang "Berkembangnya Busaya Westernisasi dalam tekhnologi masa kini".
makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga daopat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
terlepas dari itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekuarang baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. oleh karena itu dengan tangan terbukan kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

JAKARTA, 21 MEI 2016
PENYUSUN


DAFTAR ISI





SURAT PERNYATAAN  ......................................................................................      i
KATA PENGANTAR  ...........................................................................................     ii
DAFTAR ISI  ..........................................................................................................    iii

Bab 1 : PENDAHULUAN  .....................................................................................     1
1.1  Latar Belakang  ................................................................................................     1
1.2  Rumusan Masalah  ...........................................................................................     1
1.3  Tujuan  .............................................................................................................     1

Bab 2 : PEMBAHASAN  ........................................................................................     2
2.1  Pengertian Westernisasi  ..................................................................................     2
2.2  Dampak Westernisasi  ......................................................................................     2
2.3  Faktor-Faktor Penyebab Westernisasi  ............................................................     2
2.3  Sejarah Westernisasi  .......................................................................................     3
2.4  Solusi Penyelesaian Westernisasi  ...................................................................     4

Bab 3 : Penutup  ......................................................................................................     5
3.1  Kesimpulan  .....................................................................................................     5

DAFTAR PUSTAKA  ............................................................................................     6





Bab 1
PENDAHULUAN


1.1        Latar Belakang

Berbagai problem mengusik kehidupan berbangsa dan bernegara yang kita hadapi pada saat ini. Salah satunya yaitu adanya isu bahwa semakin banyak kebudayaan bangsa asing atau barat (westernisasi) yang masuk di Indonesia. Menurut Widianto (2009) kita dihadapkan kepada tiga masalah yang saling berkaitan. Pertama Suatu kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari suku-suku bangsa, dengan latar belakang sosio-budaya yang beraneka ragam. Kemajemukan tersebut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu diperlukan sikap yang mampu mengatasi ikatan-ikatan primordial, yaitu kesukuan dan kedaerahan. kedua Pembangunan telah membawa perubahan dalam masyarakat. perubahan itu nampak terjadinya pergeseran sistem nilai budaya. Pembangunan telah menimbulkan mobilitas sosial, yang diikuti oleh hubungan antar aksi yang bergeser dalam kelompok-kelompok masyarakat. Sementara itu terjadi pula penyesuaian dalam hubungan antar anggota masyarakat. Dapat dipahami apabila pergeseran nilai-nilai itu membawa akibat jauh dalam kehidupan kita sebagai bangsa. ketiga Kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi massa dan transportasi, yang membawa pengaruh terhadap intensitas kontak budaya antar suku maupun dengan kebudayaan dari luar. Khusus dengan terjadinya kontak budaya dengan kebudayaan asing itu bukan hanya intensitasnya menjadi lebih besar, tetapi juga penyebarannya berlangsung dengan cepat dan luas jangkauannya. Terjadilah perubahan orientasi budaya yang kadang-kadang menimbulkan dampak terhadap tata nilai masyarakat, yang sedang menumbuhkan identitasnya sendari sebagai bangsa.

1.2        Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud westernisasi ?
2.      Apa dampak westernisasi ?
3.      Apa faktor-faktor penyebab terjadinya westernisasi ?
4.      Bagaimana cara mengatasi masalah westernisasi di indonesia ?

1.3        Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.      Menganalisis tentang westernisasi
2.      Mengkaji dampak positif dan negatif westernisasi
3.      Mencari solusi untuk mengatasi masalah westernisasi di Indonesia




Bab 2
PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Westernisasi

Westernisasi berasal dari bahasa inggris yaitu west berarti Barat. Istilah ini sering diartikan sebagai usaha meniru gaya hidup orang barat (orang Eropa Barat atau Amerika). Meniru model hidup berarti meniru secara berlebihan model pakaian, rambut, busana, pola bergaul, berpesta (seperti perayaan ulang tahun), rekreasi dan kebiasaan minum-minuman keras.

2.2    Dampak Westernisasi

Menurut Moestopo (1983) Budaya asing (westernisasi) yang masuk ke Indonesia tersebut tidak menutup kemungkinan membawa dampak positif maupun negatif bagi bangsa Indonesia. Pengaruh tersebut diantaranya yaitu:
a.    Pengaruh Positif
-   Memberi inspirasi bagi kita agar tidak tertinggal informasi tentang kecanggihan teknologi.
-     Menggunakan sebagai motivasi untuk hidup yang lebih baik dan maju.
-    Memberi semangat bagi kita untuk memperkenalkan dengan Negara asing bahwa kebudayaan Indonesia yang beragam mampu bersaing dengan kebudayaan mereka.
b.    Pengaruh Negatif
-     Etika atau cara berperilaku akan merubah seorang individu perilaku yang lama ke perilaku baru. Pada awalnya individu etika yang lama sudah tidak sesuai dengan peilaku yang ada sehingga ia cenderung merubah etikanya untuk menyesuaikan dengan yang baru. Padahal etika yang baru belum tentu sesuai dengan norma yang  berlaku pada kehidupannya.
-       Cara berpakaian oleh para remaja yang terkena dampak ini akan menyesuaikan cara berpakaiannya dengan kebudayaan yang ia pelajari. Pada awalnya individu merasa tertarik untuk mencoba berpakaian yang berbeda untuk mengikuti tren yang sedang marak namun lambat laun akan merubah gaya berpakaian untuk seterusnya.
-      Adanya teknologi yang canggih menyebabkan hidup seesorang cenderung ke arah hedonisme dan arogan.
-     Adanya teknologi yang dirasa lebih berguna sehingga mengesampingkan tenaga manusia. Padahal sebelum mengenal teknologi, masyarakat Indonesia menghargai jasa manusia.



2.3    Faktor-Faktor Penyebab Westernisasi

Westernisasi dipengaruhi oleh berbagai faktor sebagai berikut :

1.      Masyarakat yang bersifat konsumtif terhadap produk luar negri
Masyarkat kita cenderung lebih bangga menggunakan barang-barang yang merek luar negeri, misalnya produk sepatu Adidas, Macbeth, Nike, dan lain lain.

2.      Pengaruh perkembangan teknologi informasi
Zaman teknologi masa kini media massa seperti Facebook, Instagram, Youtube dan lain-lain, Informasi tentang gaya hidup barat sangatlah bebas. Sehingga masyarakat di Indonesia meniru gaya hidup kebarat-baratan atau yang kita kenal westernisasi, seperti gaya rambut, gaya berbusana, gaya pergaulan, dan lain-lain

3.      Masuknya karya-karya yang mengandung kebarat-baratan
Di Indonesia sendiri, kecaman terhadap karya-karya budaya massa sudah dimulai jauh sebelum orde baru itu lahir. bentuk kecemasan Ir. Soekarano terhadap westernisasi sehingga dilarangnya film-film Hollywod dan semua bentuk kesenian yang berbau kebarat-baratan,

4.      Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap westernisasi
Masyarakat harus pintar memilah westernisasi bagaimanapun westernisasi bisa berdampak positif dan negatif

2.4    Sejarah Westernisasi

Menurut Antony Black kehadiran westernisasi yang sebenarnya baru dimulai sejak tahun 1700­an, muncul sebuah hubungan baru antara Islam yang di bawah pemerintahan Utsmani dengan Barat. Pada awalnya proses westernisasi waktu itu berjalan dengan lamban, selama abad ke­18 interaksi antara peradaban Islam dengan barat sangat
terbatas. Dalam bidang fikih tampak tidak ada perubahan. Sehingga dapat dipahami bahwa politik Utsmani mempertahankan pola­pikir dan kebiasaan yang tradisional. Hanya beberapa birokrat kesekretariatan yang menguasai bidang administrasi mulai terbuka terhadap kebiasaan dan ide­ide barat

2.5    Solusi Penyelesaian Westernisasi

Untuk mengurangi dan menghindari perkembangan westernisasi di Indonesia dalam tekhnologi  masa kini yang semakin meningkat ada beberapa solusi yang dapat dilakukan di antaranya adalah :

1.      Mencintai budaya-budaya asli Indonesia
2.      Pengenalan Pancasila sejak dini
3.      Memberikan pemahaman nasionalisme.
4.      Memilah gaya hidup atau budaya baru
5.      Memberikan pembekalan keimanan agar tidak terpengaruh oleh budaya barat


Menurut politikus

Anggota Komisi VIII DPR RI Adang Ruchiatna mengatakan jati diri bangsa Indonesia perlu ditingkatkan untuk mengembalikan kebudayaan Indonesia dengan mengedepankan empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. 

"Melihat di era globalisasi ini, pengaruh televisi, pengaruh pelajar luar negeri yang membawa kebudayaan asing masuk ke Indonesia, bahkan cantik dan tampan itu kategorikan orang yang campuran, naturalisasi. Jati diri bangsa perlu ditingkatkan," ujar Adang dalam diskusi dengan tema "Revitalisasi Kebudayaan Nasional Guna Membangun jati Diri bangsa" yang digelar oleh Ikatan Pemuda Indonesia Mandiri (Ipima) di Gedung Cawang Kencana, Jalan Mayjen Sutoyo, Jakarta Timur, Kamis (26/9/2013).




Bab 3
PENUTUP

3.1    Kesimpulan

Westernisasi adalah suatu perbuatan seseorang yang mulai kehilangan jiwa nasionalismenya, yang meniru atau melakukan aktivitas bersifat kebarat-baratan (budaya bangsa lain).
Budaya westernisasi di Indonesia dalam tekhnologi masa kini sudah berkembang dan memberikan dampak positif dan negative, hal ini menuntut kita untuk mawaspadai manakah yang bisa diterima dan mana yang tidak perlu diikuti. Sebagai mahasiswa dan kaum terpelajar, kita wajib menyaring gaya hidup bangsa lain yang masuk mempengaruhi bangsa kita





DAFTAR PUSTAKA



Widianto, Bambang. (2009). Perspektif Budaya: Kumpulan Tulisan Koentjaraningrat. Jakarta: RajaGrafindo Persada.hlm.82

Mustopo, Habib. (1983). Manusia dan Budaya. Kumpulan Essay.Ilmu Budaya Dasar.Surabaya: Usaha Nasional.hlm.23.

Antony Black, Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, terj. Abdullah Ali, et. al (Jakarta: Serambi, 2006), hal. 496.

Nana Supriatna, Mamat Ruhimat, Kosim. Ilmu Pengetahuan Sosial, Grafindo media pratama 2006

Hikmat Budiman, Lubang Hitam Kebudayaan, Kansius 2002

http://www.kompasiana.com/priskhilalasa/westernisasi_55003c98a333118d7351006a


http://news.okezone.com/read/2013/09/27/337/872586/tingkatkan-jati-diri-bangsa-dengan-gotong-royong